|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Wacana » Karakteristik Penelitian Evaluasi (2)

Karakteristik Penelitian Evaluasi (2)

Kamis, 10 Oktober 2013 12:27:57  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 370
Karakteristik Penelitian Evaluasi (2)

Keempat, penelitian

evaluasi berlangsung dalam

suatu latar tindakan, sehingga

pokok terpentingnya adalah

program. Program i tu

sendiri, lazimnya berkenaan

dengan kepentingan publik,

kepentingan khalayak yang

dilayani. Karena itu, saat ada

perselisihan antara tuntutan

program dan tuntutan

penelitian evaluasi, prioritas

harus diberikan terhadap

program. Implikasi paling

sederhana dari kaidah ini

adalah adanya keharusan

bagi penelitian evaluasi untuk

tidak mengganggu jalannya

program, lebih-lebih bila

penelitian evaluasi dilakukan

oleh evaluator luar. Namun,

bila evaluasi dilakukan oleh

evaluator dalam, justru

temuan evaluasi dengan

segera ditindak-lanjuti dengan

upaya perbaikan. Evaluasi

dari dalam lebih cenderung

bersifat evaluasi formatif,

atau pemantauan terhadap

jalannya program.

Kelima, penelitian evaluasi

sangat sering menghadapi

masalah perbenturan peran.

Perselisihan seringkali terjadi

antara peneliti evaluasi

program dengan para praktisi

pelaksana program. Secara

profesional, norma dan

peran praktisi pelaksana

memang begitu terikat dengan

program, sehingga seringkali

tidak tanggap kebutuhan

dan tuntutan penelitian

evaluasi.

Keadaan demikian masih

diperparah dengan adanya

kecenderungan sebagian besar

praktisi program, termasuk

praktisi pendidikan, yang

menyamakan antara evaluasi

dengan pemeriksaan, dan

pengawasan, dan bahkan

penilikan atau penyeliaan

tepatnya tenaga pendidik

dan kependidikan, kegiatan

penelitian baik ilmiah

maupun evaluasi. Ketakutan

“disalahkan” para tenaga

pendidik dan kependidikan

cenderung mengalahkan

dorongan untuk berperan

dalam pengembangan ilmu

dan perbaikan layanan profesi

kependidikan.

Keenam, penelitian ilmiah

yang baik tentu saja dilakukan

justru untuk diterbitkan dan

disebarluaskan. Sebaliknya,

sebagian besar penelitian

evaluasi dilakukan cenderung

tidak untuk diterbitkan atau

disebar-luaskan. Jujur harus

dikemukakan, ada keterbalikan

s i k ap ant a r a pr a k t i s i

pendidikan dengan kalangan

penerbi tan Indones ia.

Sementara kalangan praktisi

pendidikan menghendaki

set iap penerbi tan dan

atau pemberitaan harus

meningkatkan citra baik

pejabat , lembaga dan

komunitas terkait, kalangan

penerbitan justru cenderung

lebih bersemangat menerbitkan

atau memberitakan hal-ikhwal

yang cenderung mencoreng

nama baik pejabat, lembaga

dan komunitas terkait.

Akibat lebih lanjut dari

dua sikap yang bertentangan

tersebut adalah berkembangnya

hubungan tidak sehat antara

dunia penerbitan dengan

dunia praktisi pendidikan.

Dunia penerbitan cenderung

berkenan menyebarluaskan

informasi baik apabila juga

memetik keuntungan dari

layanan penyebarluasan

tersebut. Jenis tulisan “pesanan”

seperti ini yang kemudian

dikenal sebagai advertorial,

yang tidak lain merupakan

iklan yang dikemas menjadi

seolah-oleh tulisan objektif

atau berita yang sebenarnya.

Sementara itu, kalangan

praktisi pendidikan seolah

tidak peduli bahwa tulisan

jenis advertorial tersebut telah

benar-benar diketahui oleh

masyarakat sebagai sekedar

upaya pencitraan, atau malah

sekedar sebagai iklan.

Menurut Weiss (1972),

kecenderungan untuk tidak

menerbitkan hasil penelitian

evaluasi tersebut justru kurang

memberikan manfaat bagi

perbaikan program-program

layanan masyarakat, termasuk

dalam profesi kependidikan.

Karena itu, menurut pakar

evaluas i program asal

Universitas Columbia ini,

agar kemanfaatan hasil

penelitian evaluasi program

bisa dipetik oleh pihak-pihak

terkait, para peneliti evaluasi

harus bergerak dari sekedar

menguji program menjadi

menguji faktor atau variabel.

Dengan lebih menekankan

pada variabel, baik akademisi

maupun praktisi sama-sama

bisa memetik manfaat baik

untuk kepentingan keilmuan

maupun untuk kepentingan

perbaikan program maupun

layanan publik sejenis.

Terakhir, berbeda dari

penelitian ilmiah yang sematamata

untuk pengembangan

peng e t ahuan i lmi ah,

maka penelitian evaluasi

dituntut memiliki tiga jalur

hubungan fungs ional ,

yaitu kepada: (1) lembaga

yang mendanai kegiatan

penelitian evaluasi yang

dilakukan sebagai ditegaskan

dalam akad kerjasama atau

surat perintah kerja, (2)

masyarakat secara umum

melalui sumbangannya dalam

memperbaiki program atau

layanan publik sebagaimana

dalam pendidikan, dan

(3) komunitas profesional

dan akademik melalui

pengembangan pengetahuan

ilmiah dan profesional.

Sudah barang tentu, untuk

bisa menjalankan ketiga

tanggungjawab tersebut,

pelaksana penelitian evaluasi

harus berhasil tidak hanya

menarik kesimpulan yang

bers i fat programat ikmanagerial

berkenaan dengan

keberhasilan program, tetapi

juga memberikan rekomentasi

praktik atau rekomendasi

kebijakan secara lebih baik

bila dibandingkan dengan

kegiatan evaluasi internal.

Selanjutnya, peneliti evaluasi

juga harus mampu melakukan

transformasi temuan, dari

yang semula bersifat substantif

dan khusus, menjadi bersifat

formal dan umum. Untuk itu,

peneliti evaluasi bisa bekerja,

baik dengan metode penelitian

positivistik-kuantitatif untuk

menguji hipotesis program,

maupun dengan metode

penelitian interpretif-kualitatif

untuk menghasilkan proposisi

atau model teroretik.(*)

Baca "Wacana" Lainnya

Komentar Anda