|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Wacana » Ramadan Mandiri di Jerman

Ramadan Mandiri di Jerman

Rabu, 17 Juli 2013 10:44:09  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 133
Ramadan Mandiri di Jerman

Belum ada satu pun lembaga yang menghitung secara pasti berapa jumlah kaum Muslimin di Jerman. Ada yang mentaksir sekitar 4 juta Muslim di sana, dari 88 juta total jumlah penduduk asli Jerman. Mayoritas bertempat tinggal di kota Berlin dan Hamburg. Pemandangan di dua kota itu sarat akan nuansa keIslaman. Para Muslimah yang berdomsili di kota itu saat beraktivitas di luar rumah selalu mengenakan jilbab dan perangkat Islam lainnya. Tentu nuasa itu akan sangat mengental seiring datangnya bulan Ramadan.

Menjalankan puasa di tanah air Michael Ballack, tentu sangat berbeda dengan negara yang mayoritas Islam. Antusias dan jamaah yang memadati Islamic Center, aula, dan masjid-masjid yang tersebar di seantero negeri. Ada bimbingan membaca Al-Quran, pendalaman materi keIslaman. Maklum, Ramadan adalah momentum yang sangat dinanti-nanti.

Terlebih lagi jika Ramadan jatuh pada musim Panas. Dengan sendirinya durasi puasa lebih panjang daripada biasanya. Ketika puasa jatuh pada musim Panas, kesabaran dan tidak banyak mengeluh menjadi solusi tersendiri. Durasi puasa sekitar 15 jam sangat menguji keimanan mereka. Waktu sahur terkadang dimulai pukul 2.30 dini hari berakhir pada jam 20.30. Mahasiswa Indonesia yang tengah mendulang ilmu disana punya tip tersendiri menyiasati lamanya durasi puasa. Untuk menjaga stamina supaya tetap fit selama puasa, mereka biasanya mengkonsumsi buah-buahan lebih banyak. Sehingga cairan dalam tubuh seimbang.

Umat Islam Jerman yang serempak melaksanakan puasa, mendorong pengurus masjid mempersiapkan kegiatan Ramadan lebih awal. Seperti penentuan kepanitian selama Ramadan, penceramah, dan perlombaan untuk menyemarakkan kedatangan bulan rahmat itu. Masjid-masjid di Jerman lebih identik dengan ras bangsa. Corak masjid terbagi kepada dua bagian; masjid Turki dan Arab.

Untuk berbuka puasa kebanyakan masjid-masjid yang di Jerman menyediakan bermacam menu ifthar untuk para shaimin. Kendatipun ada beberapa masjid yang hanya menyediakan makanan ifthar pada akhir minggu saja. Anda yang ingin melakukan safari Ramadan ke negeri yang berikota Berlin ini tidak perlu cemas, toko-toko Asia banyak tersebar di sepanjang kota. Jika tidak sempat menikmati menu buka puasa di masjid, Anda akan dengan mudah mendapat makanan dan masakan siap saji yang dijamin halal. Dengan harga yang bervariasi tergantung isi kocek Anda.

Ketika anda berbuka puasa di masjid jangan terkejut jika porsi yang diberikan kepada anda terlalu besar. Maklum porsi makan saudara-saudara kita yang Turki dan Arab tentu lebih banyak daripada orang Asia. Agar tidak mubazir, sebagian orang Asia kerap meminta menu makanan untuk porsi anak-anak.

Jika pandai menyiasati berbuka puasa di Jerman memiliki khas tersendiri, bisa menghilangkan rasa jenuh dan bosan. Dengan mencicipi berbagai menu khas dari berbagai negara. Anda bisa secara bergantian mendatangi masjid-masjid yang tersebar di berbagai kota di Jerman. Di kota Berlin saja terdapat masjid milik orang Turki, Palestina, Bosnia, Pakistan dan lain-lain. Selain dapat menyantap hidangan khas mereka, sambil berbuka Anda juga dapat menjalin silaturahim dengan saudara-saudara mancanegara.

Di kota Berlin terdapat satu masjid milik masyarakat Indonesia, masjid itu diberi nama Al-Falah. Setiap Ramadan datang, masjid Al-Falah ini dihiasi aksesoris lampu yang khas. Pengurus masjid menyiapkan berbagai acara untuk semua kalangan. Tujuannya merangsang anak-anak agar betah di masjid, agenda juga diprioritaskan bagi kalangan dewasa. Yang lebih mengasyikkan lagi, selama Ramadan penceramah yang memberikan siraman rohani didatangkan langsung dari Tanah Air atau mahasiswa yang tengah belajar di Timur Tengah. Momen ini tentu sangat urgen, untuk berdialog, sharing ide, tukar informasi seputar materi keislaman.

Jumlah masjid di Jerman yang masih terbatas membuat sebagian umat Islam melaksanakan tarawih di rumah bersama keluarga. Kendatipun demikian, bagi mereka yang rindu kebersamaan dan lantunan ayat suci Al-Quran dari imam yang banyak didatangkan dari Timur-Tengah. Jadi, mereka bisa dengan melaksanakan berjamaah di masjid atau aula yang dijadikan tempat salat. Walaupun penuh sesak, tidak menjadi masalah yang terpenting hati mereka merasa sejuk dan lapang dengan lantunan ayat-ayat Al-Quran

Kalau ingin sahur, Anda tidak jangan terlalu berharap akan dibangunkan layaknya himbauan sahur masjid-masjid di kampung, Indonesia, sebab Anda tidak akan mendengar seruan menyantap hidangan sahur atau isyarat lain. Biasanya kaum Muslimin di Jerman mengatur jadwal sahur sendiri-sendiri. Jadi kalau hidup di mayoritas non-muslim untuk bisa beribadah dengan tepat waktu dan konsisten, setiap orang dituntut untuk tanggap, cermat dan selalu mengamati.(*)

 

Baca "Wacana" Lainnya

Komentar Anda