|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Wacana » Fitrah Manusia dan Kurikulum 2013

Fitrah Manusia dan Kurikulum 2013

Rabu, 3 Juli 2013 15:03:38  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 288

PERMASALAHAN dunia pendidikan tidak akan selesai. Satu permasalahan tuntas, akan muncul masalah baru, begitu seterusnya. Dalam suatu kesempatan ceramah di hadapan acara Munas X Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) di Palembang, Mendikbud, Mohammad Nuh, menyampaikan bahwa “Kalau urusan pendidikan, maka kita tidak perlu khawatir terhadap satu hal, yakni khawatir akan kehabisan masalah. Kalau kita mengurus pendidikan, terus berharap tidak ada persoalan, berarti sudah selesai. Tidak perlu ada pendidikan!
Ada tiga alasan mengapa pendidikan tidak dapat dilepaskan dari masalah? Pertama, karena pendidikan itu mengurus manusia, bukan mengurusi hewan. Seringkali manusia itu bagian dari pesoalan. Selama ada manusia, selama itu pula ada persoalan. Kedua, karena pendidikan itu pasti terkait dengan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, peradaban. Dan, pengetahuan itu akan terus berkembang. Ketiga, karena pendidikan itu mengurusi masa depan. Bukan masa lalu. Masa depan pribadi, masa depan sekolah, masa depan yayasan, dan masa depan bangsa. Masa depan itu memiliki variabel  yang tidak pasti. Karenanya, per­masalahan di dunia pendidikan itu tidak pernah tuntas, namun –satu per satu– harus terus diselesaikan.
Nah, tugas pemerintah, pimpinan lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, pendidik, termasuk kita semua adalah mengawal pendidikan dengan mengusung paradigma pe­nye­lesaian masalah. Mengapa pendidikan sangat penting? Boediono (2012) dalam sebuah artikelnya “Pendidikan Kunci Pembangunan”, menyatakan dengan tegas bahwa institusi memegang peran kunci dalam proses kemajuan bangsa. Kualitas institusi penentu utama kemajuan bangsa. Melalui pendidikan kita dapat menanamkan sikap yang pas dan memberikan bekal kompetensi yang diperlukan kepada manusia-manusia yang menjalankan fungsi institusi-institusi yang menentukan kemajuan bangsa. Singkat kata, pendidikan (baca: pendidikan berkualitas) merupakan kebutuhan seluruh rakyat Indonesia dan memiliki nilai yang sangat mendasar dan strategis.
Oleh karena itu, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seyogianya terus mengawal jalannya pendidikan secara nasional dari segala aspeknya. Pendidikan harus mampu bergerak cepat untuk merespons perubahan dan tuntutan zaman. Termasuk juga kurikulum pendidikannya, tidak boleh stagnan bahkan tertinggal. Tapi, harus secara berkelanjutan dilakukan refleksi dan evaluasi dan dikembangkan sesuai dinamika zaman. Sehingga, sudah sewajarnya jika Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan menjadi Kurikulum 2013, yang rencananya mulai diimplementasikan tahun pelajaran baru nanti (bulan Juli) pada sekolah terbatas.

Pro Kontra
Setiap ada kebijakan baru, mesti ada pro dan kontra. Itu tidak bisa dihindari. Tidak heran, jika ada pihak yang mengatakan “menteri baru, ke­bijakan baru”. Mendikbud, Mohammad Nuh, juga tidak lepas dari sasaran pernyataan tersebut. Namun, Mohammad Nuh, tetap bersikukuh bahwa perubahan kurikulum ini, merupakan suatu keharusan. Perubahan ini perlu dilakukan untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah agar anak-anak mampu bersaing pada masa depan. Kurikulum 2013, dirancang sebagai upaya mempersiapkan generasi Indonesia 2045 (100 tahun Indonesia Merdeka), sekaligus memanfaatkan momentum populasi usia produktif yang jumlahnya sangat melimpah, agar menjadi bonus demografi dan tidak menjadi bencana demografi.
Anita Lie (2013), Profesor dan Direktur Program Pascasarjana Universitas Widya Mandala, Surabaya, menyatakan sikap dua kutub yang berbeda. Sikap positif dan dukungan terhadap rencana pemberlakuan Kurikulum 2013 dilandasi pemikiran bahwa memang perubahan kurikulum sudah selayaknya dilakukan untuk merespons transformasi zaman dan kebutuhan abad ke-21. Harapannya, sekolah bisa menyiapkan peserta didik menjadi pribadi berkarakter mulia serta punya pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk bisa berpartisipasi dan berkontribusi di masyarakat abad ke-21. Sebaliknya, kecemasan dan keraguan yang melandasi berbagai sikap, mulai dari kritik tajam sampai penolakan, menunjukkan ketidakpercayaan bahwa Kurikulum 2013 merupakan solusi bagi berbagai masalah pendidikan di Indonesia.
Fitrah Manusia
Mari kembali pada permasalahan. Bahwa, yang menjadi objek pendidikan adalah manusia. Kita tahu bahwa manusia itu diciptakan Tuhan sebagai makhluk sempurna yang dilengkapi dengan akal pikiran. Tentu berbeda dengan makhluk lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Oleh karena itu, pelaksanaan dan pengembangan pendidikan, dalam hal ini Kurikulum 2013 harus memperhatikan karakter kemanusiaannya.
Keutamaan yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah fitrah, yakni potensi manusiawi yang educable. Dengan bekal itulah memungkinkan bagi manusia untuk mencapai taraf kehidupan yang amat tinggi dalam aspek peradaban dan kedekatan dengan Tuhannya. Ciri yang paling mendasar tentang gambaran manusia ini, dilukiskan oleh M.J. Langeveld, sebagaimana yang dikutip Djumbransjah (2006:150) dalam bukunya “Filsafat Pendidikan” dengan kalimat singkat, animal educandum (manusia adalah makhluk yang harus dididik), animal educable (manusia adalah makhluk yang dapat dididik), dan homo edocandus (manusia adalah makhluk bukan saja harus dan dapat dididik tetapi harus dan dapat mendidik).
Melalui rancangan Kurikulum 2013 berbasis fitrah manusia, diharapkan nantinya keberadaan pendidikan bisa berfungsi sebagai wahana mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan fitrahnya dalam hal ini sesuai dengan kecerdasannya. Pendidikan merupakan proses pengembangan fitrah peserta didik sehingga mampu membentuk kepribadian manusia yang ideal, yakni sosok manusia unggul. Pendidikan bukan untuk mencetak manusia menjadi apa dan siapa atau menciptakan produk. Namun, pendidikan sesungguhnya berperan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan unik setiap individu.(*)

Baca "Wacana" Lainnya

Komentar Anda